Melihat Alam Melalui Lukisan Bunawijaya

Hai, Sobat!

Memanjakan mata dengan menatap alam dan seisinya mungkin bisa diwakilkan oleh lukisan karya Bunawijaya dalam pameran tunggal di Gedung A, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Pameran yang bertajuk “Menghadapi Stigma Mooi Indië” tersebut menampilkan 47 lukisan dari karyanya.

Bunawijaya sendiri ialah “pendatang” baru yang memutuskan terjun menjadi seniman 20 tahun lalu. Ia hanyalah seorang pecinta alam tanpa pengalaman dalam pendidikan formal di bidang seni rupa, dan berkat kecintaannya pada alam mendorongnya untuk melukiskan keindahaan alam yang dapat dilihat oleh khalayak.

“Biasanya pendatang, seperti Bunawijaya, tidak dapat bertahan lama di dunia seni rupa. Namun, Bunawijaya dapat bertahan sekaligus mempertahankan pandangannya dan tidak terpengaruh wacana-wacana dominan di dunia seni rupa. Ia tidak ikut-ikutan membuat lukisan abstrak atau karya instalasi untuk survive,” menurut keterangan Jim Supangkat pada Kamis, (28/12/18).

Berbicara tentang Mooi Indië, apakah sobat tau apa artinya?

Nah, Mooi Indië (Hindia Molek) sendiri adalah sebutan untuk lukisan pemandangan alam pada zaman kolonial yang dibuat sebagai kenang-kenangan bagi orang Belanda tentang keindahan Hindia Belanda. Pada zaman kemerdekaan, lukisan pemandangan alam tersebut malah disebut “lukisan pinggir jalan” karena dijajakan di taman kota dan emperan toko. Namun, Bunawija dapat menyangkal hal tersebut dengan karyanya. Tidak lagi hanya menyalin realitas alam, namun Bunawijaya membawa sesuatu yang segar dengan menampilkan rekaan realitas alam yang tidak ada dalam kenyataan.

Bagi sobat yang tertarik untuk melihat karya-karyanya, masih ada kesempatan, nih, sampai 5 Januari 2018. Jangan lewatkan! Tiket masuknya gratis, lhoo.

 

-rad & KhS

Advertisements

Bernolstagia di Benteng Van Der Wijck

Halo, Sobat!

Siapa bilang Jawa Tengah cuma punya alamnya yang menawan untuk dikunjungi sebagai tempat wisata?? Eitss, makanya jalan-jalan dulu ke Jalan Sapta Marga Nomor 100, Gombong, Kebumen, kamu akan menemukan bangunan tua yang masih kokoh dengan sejuta nostalgia di dalamnya. Yap, Benteng Van Der Wijck.

Menurut data kunjungan Promeda pada Senin, (25/12/17), benteng ini semula adalah benteng administrasi pada masa kolonial Belanda di abad ke-18 yang tepatnya dibangun sekitar tahun 1818, dan baru berfungsi sebagai benteng pertahanan saat Perang Diponegoro pecah. Nah, benteng ini juga ikut serta dalam memecah siasat perang gerilya Pangeran Diponegoro. Setelahnya, benteng tersebut difungsikan untuk pendidikan militer Belanda dan tentara PETA. Lalu pada tahun 2000, akhirnya benteng Benteng Van Der Wicjk dibuka untuk umum yang sebelumnya dikelola oleh pihak swasta.

myhome_9

Sobat, tau gak? Benteng yang berbentuk segi delapan hanya ada 2, loh, di dunia, yaitu Benteng Van Der Wijck dan benteng yang berada di Australia. Wah, rare, kan!

Nah, selain menjadi saksi bisu sejarah yang kelam, benteng ini juga acap kali digunakan sebagai lokasi shooting video klip musik, acara televisi, hingga film. Seperti yang sobat bisa lihat pada gambar, ada chef Farah yang sedang memasak dan para personil band Slank yang sedang bergaya. Kepopulerannya Benteng Van Der Wicjk pun langsung melejit naik, apalagi setelah dijadikan lokasi pengambilan film The Raid 2: Berandal.

Sebagai tempat wisata, Benteng Van Der Wijck tidak hanya menjual bangunan bersejarah, tapi juga berbagai wahana wisata keluarga, seperti water park, wahana kereta di atas benteng, dan masih banyak lagi. Para pengunjung juga dapat menginap di kawasan benteng dengan fasilitas hotel yang telah disediakan. Hanya dengan Rp 25.000, pengunjung sudah dapat masuk dan berkeliling di kawasan benteng Van Der Wicjk.

18787.jpg

Kalau Sobat melewati kota Gombong, jangan lupa untuk singgah di Benteng Van der Wijck sambil menikmati nostalgianya, yaaa.

-rad